Cerita Tengah Malam di IGD Rumah Sakit Sebelum Pandemi COVID-19

by - Maret 22, 2021


Ini pertama kali sebagai anak tengah ngurus administrasi mama berobat di rumah sakit berdua adik saja. Karena memang prosedurnya harus masuk ke IGD dulu, aku yang nemenin mama di dalam IGD. Adik aku duduk di ruang tunggu. Jadi kita ke IGD untuk diperiksa dulu sama dokter. Para dokternya si duduk aja sambil tangannya ngetik keyboard laptop dan mulutnya bertanya-tanya "Keluhannya apa ibu...". Jadi perbincangan dokter, pasien, dan keluarga pasien tembus telinga di ruangan ini.

Kemudian mama ditensi, dan diambil darah oleh suster. Gak lama mama dipasang infus sembari nunggu hasil cek darah. Ini di IGD kita lamaaaa banget.. sampai ngeri sendiri pasien datang dan pergi ke sang ilahi. Menyaksikan sendiri ada bapak tua gak sadarkan diri saat tiba di IGD, karena serangan jantung. Ada anak bayi dehidrasi, ibunya histeris.

Image by Parentingupstream from Pixabay 


Ada wanita setengah baya sakit kanker sedang merintih menahan sakit ditemani saudaranya. Ternyesek, ada satu peristiwa lagi jam menunjukan tengah malam suasana sudah tenang karena sudah agak sepi IGD. Tiba-tiba beberapa orang masuk IGD histeris sambil mendorong kasur (alat apa itu namanya gak tau) seorang bapak-bapak yang tidak sadarkan diri tegeletak dengan bercak darah di bajunya.

Tak lama ada darah yang menetes ke lantai entah keluar dari area mana, miris kata pihak keluarganya bapak ini tersedak habis minum kopi sampai batuk gak berhenti-henti. Disayangkan kata dokter pas tiba di IGD bapak tsb sudah meninggal beberapa jam lalu "kenapa baru dibawa kesini jam segini" jadi kemungkinan alm bapak ini darah tingginya kumat saat batuk hingga pecah pembuluh darah. Tangis keluarganya pecah saat itu.

Sedih dan merinding aku saat itu. Suasana di dalam IGD malam itu bikin gemeter, speechless. Btw mamaku di IGD gak dapat tempat tidur jadi di infus dalam keadaan duduk di bangku jadi bisa ngobrol sama orang-orang yang baru datang. Selang beberapa jam aku selaku keluarga pasien diminta suster untuk ambil hasil lab dilantai atas.

Malem-malem aku ngambil hasil lab. Pakai salah lantai ya ampun udah gelap untung ada bapak-bapak yang kakinya napak bumi keluar dari mushola ngasih tau bahwa aku salah lantai, lab ada di lantai 3. Naik lift di rumah sakit jam setengah 12 malam sendirian, gimana rasanya? Bukan parno ketemu hantu, tapi ngeri mati lampu atau lift error dan di rumah sakit.


ilustrasi lift dimalam hari


Akhirnya sampai ke lab cuma lampu lab yang nyala lorong kanan ruang poliklinik gelap semua, aku kasih selembaran ke mbak-mbak lab yang sendirian juga tugasnya. Jadi disini aku cuma berdua sama mbak lab. Terus balik lagi ke IGD iya tentunya naik lift lagi sendirian, sampainya di IGD keluar lagi suruh daftar kamar ke petugas pendaftaran "ada kamar atau engga". Disini aku berdua sama adik aku nunggu dipanggil.

Untuk pertama kalinya tanda tangan sebagai penanggung jawab pasien. Akhirnya dapet kamar. Besoknya periksa ini itu sebelum operasi. Kita memang mandiri tidak kayak keluarga pasien lain yang heboh ini itunya dateng nemenin. Ini aku hanya berdua dengan adik, gak apa-apa. Usai masuk kamar ruangannya masih kosong, kasurnya ada 4 suruh pilih mau kasur sebelah mana. "Yang pojok aja gak terlalu kena AC" kata mamaku.

Jam 3 pagi aku masih gak bisa tidur, memang begitu tiap di tempat baru pasti gak bisa tidur apalagi habis melihat kejadian yang bikin aku gak bisa berkata-kata. Akhirnya pagi tiba, mata merah, sepet, perih, lapar. Besoknya saat jam besuk adik aku datang dan gak lama ada temen mama tante Hani yang datang nemenin kita selama mama operasi ya walaupun operasi kecil lumayan lama juga ya 2 jam.



Ibu aku operasi kecil dilaser tidak disayat jadi di saluran pipisnya ada infeksi yang bikin pipisnya tersumbat, ada batu kecil juga kata dokter. Hari ini ibu aku masuk rumah sakit besoknya pasien positif COVID-19 pertama muncul beritanya. Rumah sakit belum ada social distancing. Duduk diruang tunggu operasi juga berdempetan sama oranglain yang nunggu keluarganya.

Jadi overthinking, masalahnya belum ada rapid/swab test sebelum operasi kayak sekarang. Rumah sakit masih ramai, sampai akhirnya tiba pas gantian jaga dan balik lagi ke rumah sakit di depan pintu masuk wajib cuci tangan dan dicek suhu oleh security juga ditanya ada keperluan apa, ya mendadak rumah sakit jadi diperketat.

Ibu aku di rumah sakit hanya 4 hari, alhamdulillah, karena operasi kecil jadi udah bisa jalan dengan baik. Nah itulah kiranya pengalaman aku sebagai anak tengah yang mengurus administrasi rumah sakit orangtua untuk pertama kali dengan suasana IGD yang....... Dulu sakit ditemenin orangtua sekarang nemenin orangtua, hidupkan memang begitu ya.. alurnya..

Sekian :)


You May Also Like

0 komentar

Hi, silahkan tinggalkan komentar terbaikmu ya. Mau berbagi cerita boleh banget! Thank you.

Pageviews


Community Member of

Blogger Perempuan