Mama Operasi Infeksi Saluran Kemih Bayar Pakai BPJS, Lunas!

by - Juni 22, 2020


Salam sehat~

Mamaku mendapat rujukan dari Puskesmas untuk lanjut pengobatan di RS rujukan yaitu RS Annisa Tangerang. Setelah beberapa kali balik ke Puskesmas mengeluh sakit pinggang bagian belakang bawah dan belum reda juga. Mamaku pakai BPJS kelas 3 (kenapa kelas 3, karena dipikir kami jarang sakit ya kelas 3 juga gak apa-apa).

Kita pilih RS Annisa karena dekat dari rumah, sudah tau prosedur daftarnya juga, karena beberapa kali keluarga juga berobatnya di RS Annisa jadi tidak buta informasi banget ke situ. Tapi, ini adalah kali pertama sebagai seorang anak ngurus administrasi Mama berobat di rumah sakit berdua adik malam-malam.

Karena prosedurnya harus masuk ke IGD dulu, aku yang nemenin mama di dalam IGD. Adik aku duduk di ruang tunggu. Jadi ke IGD untuk diperiksa dulu sama dokter. Para dokternya si duduk aja sambil tangannya ngetik keyboard laptop dan mulutnya bertanya-tanya

"Keluhannya apa ibu...". Jadi perbincangan dokter, pasien, dan keluarga pasien tembus telinga di ruangan ini.
Dokumen yang perlu dibawa adalah KTP asli, fotokopi KTP, fotokopi kartu keluarga, surat rujukan dari puskesmas, fotokopi kartu BPJS. Serba fotokopi dokumen harus sedia pokoknya.

Kemudian mama ditensi, cek suhu badan, dan diambil darah oleh suster. Ini di IGD kita lamaaaa banget.. sampai ngeri sendiri pasien datang dan pergi ke sang ilahi. Menyaksikan sendiri ada bapak tua gak sadarkan diri saat tiba di IGD, karena serangan jantung. Ada anak bayi dehidrasi, ibunya histeris.

Image by Parentingupstream from Pixabay 

Ada wanita setengah baya sakit kanker sedang merintih menahan sakit ditemani saudaranya. Ternyesek, ada satu peristiwa lagi jam menunjukan tengah malam suasana sudah tenang karena sudah agak sepi IGD. Tiba-tiba beberapa orang masuk IGD histeris sambil mendorong kasur (alat apa itu namanya gak tau) seorang bapak-bapak yang tidak sadarkan diri tegeletak dengan bercak darah di bajunya.

Tak lama ada darah yang menetes ke lantai entah keluar dari area mana, miris kata pihak keluarganya bapak ini tersedak habis minum kopi sampai batuk gak berhenti-henti. Disayangkan kata dokter pas tiba di IGD bapak tsb sudah meninggal beberapa jam lalu "kenapa baru dibawa kesini jam segini" jadi kemungkinan alm bapak ini darah tingginya kumat saat batuk hingga pecah pembuluh darah. Tangis keluarganya pecah saat itu.

Sedih dan merinding aku saat itu. Suasana di dalam IGD malam itu bikin gemeter, speechless. Btw mamaku di IGD gak dapat tempat tidur jadi di infus dalam keadaan duduk di bangku jadi bisa ngobrol sama orang-orang yang baru datang yah aku mah bagian dengerin aja. Selang beberapa jam aku selaku keluarga pasien diminta suster untuk ambil hasil lab dilantai atas.

Malem-malem aku ngambil hasil lab. Pakai salah lantai ya ampun udah gelap untung ada bapak-bapak yang kakinya napak bumi keluar dari mushola ngasih tau bahwa aku salah lantai. Naik lift di rumah sakit jam 12 malam sendirian, gimana rasanya? Bukan parno ketemu hantu, tapi ngeri mati lampu atau lift error dan di rumah sakit. Mana udah sepi banget.


ilustrasi lift dimalam hari


Akhirnya sampai ke lab cuma lampu lab yang nyala lorong kanan ruang poliklinik gelap semua, aku kasih selembaran ke mbak-mbak lab yang sendirian juga tugasnya. Jadi disini aku cuma berdua sama mbak lab. Terus balik lagi ke IGD iya tentunya naik lift lagi sendirian, sampainya di IGD keluar lagi suruh daftar ke petugas pendaftaran. Disini aku berdua sama adik aku nunggu dipanggil. Bawa surat dari IGD kartu fotokopi BPJS, dan isi formulir rawat jalan.

Untuk pertama kalinya tanda tangan sebagai penanggung jawab pasien. Terus dapat kartu berobat. Aku balik lagi ke IGD kasih lembaran dari pihak administrasi ke dokter selanjutnya dikasih resep obat dan dikasih rujukan lagi untuk berobat ke dokter urologi namanya dr. Arie Asnafi, Sp.U untuk di cek lebih lanjut. Setelah itu kita ambil obat di klinik lalu pulang jam setengah 1-an tentunya naik ojek online karena angkot gak ada. Sama sekali gak bayar apa-apa di RS.

Singkat cerita setelah kunjungan konsultasi ke dokter tersebut dan rontgen hasilnya ada infeksi saluran kemih jadi ada yang nyumbat saluran pipis, jadi pipisnya sakit, pinggang sakit bisa jadi karena sumbatan itu. Disarankan ((((operasi kecil)))). Sebelum operasi pastinya dicek dulu ke dokter penyakit dalam, cek darah, cek ricek lainnya ya lama ya namanya juga mau operasi. Selama bulak balik ke RS Annisa sama sekali gak kena biaya ya cuma ongkos untuk dateng dari rumah ke RS  dan jajan aja. Dan alhamdulillahnya RS Annisa pelayanannya ramah dan jelas (ini penting).

Dapet telpon dari pihak RS Annisa seminggu setelahnya. Balik lagi melalui IGD sore hari, mamaku dipasang infus dan di cek darah lagi terus aku diminta ke bagian administrasi untuk daftar kamar rawat, akhirnya dapet kamar dan balik ke IGD tentunya untuk kasih lembarannya. Terus mamaku dibawa pakai kursi dorong menuju kamar rawat. Boleh masuk cuma satu orang untuk jaga karena bukan jam besuk, adikku duduk di bangku luar semabari nunggu jemputan untuk pulang.

Di ruangan rawat ini jumlah kasurnya ada empat, pas masuk masih kosong. Mamaku penghuni pertama di kamar itu, baru beberapa jam kemudian 3 kasur tersebut terisi. Pasien sekamar mamaku ini berobatnya sama mau operasi juga cuma beda-beda. Ada operasi batu ginjal, operasi ambein, & operasi gigi.

Malam pertama aku nginep di RS jujur aja mata perih tapi gak bisa merem. Mamaku? wah dia pulas.

Tiba pagi, mamaku diperiksa darah lagi, dan puasa sebelum operasi. Jeng-jeng-jeng tiba waktunya anter mama ke ruang operasi. Aku dipersilahkan masuk untuk bantu ganti baju, setelahnya aku keluar. Aku dan adikku yang sudah datang nunggu di ruang tunggu berdempetan dengan oranglain yang nunggu kerabatnya dioperasi. Kita memang minimalis tidak kayak keluarga pasien lain yang heboh ini itunya dateng nemenin ya pasar amat. Gak lama ada temen mama tante Hani yang datang nemenin kita selama mama operasi ya walaupun operasi kecil lumayan lama juga ya 2 jam.

Kata mamaku operasinya dilaser tidak disayat pakai alat yang ada kameranya gitu jadi dokter laser sambil lihat layar monitor. Kata dokter Arie ada batu kecil juga diginjalnya, sudah dilaser. Hari ini ibu aku masuk RS besoknya pasien positif COVID-19 pertama muncul beritanya. Rumah sakit belum ada social distancing.

Jadi overthinking, masalahnya belum ada rapid/swab test sebelum operasi kayak sekarang. Rumah sakit masih ramai, sampai akhirnya tiba pas gantian jaga dan balik lagi ke rumah sakit di depan pintu masuk wajib cuci tangan dan dicek suhu oleh security juga ditanya ada keperluan apa, ya mendadak rumah sakit jadi diperketat.

Ibu aku di rumah sakit hanya 3 hari, alhamdulillah, karena operasi kecil jadi udah bisa jalan dengan baik. Dikasih struk rincian biaya tulisannya LUNAS Rp2juta sekian alhamdulillah ya ditanggung BPJS. Terima kasih BPJS. Pelayanan kelas 3 gak ada bedanya sih di RS Annisa (swasta) entah kalau RS Pemerintah. Alhamdulillah mamaku udah gak ngeluh nyeri lagi saat pipis.

Sekian :)


You May Also Like

0 komentar

Hi, silahkan tinggalkan komentar terbaikmu ya. Mau berbagi cerita boleh banget! Thank you.

Views


Community Member of

Blogger Perempuan