Dari Ilmu Hukum Pindah Jadi Penulis, Gak Nyambung?

Pixabay.com


Riset, investigasi, dan karakter. Keingin-tahuan akan hal-hal yang menurutku aneh, janggal dan perlu di selidiki itu seru buat ku.
Daripada negatif thinking lebih baik stalking.
Sebelum su'udzhon cari tau dulu, kebenarankan langkah awal yang simple seperti itu.

Hukum? Yups, Aku dulu pernah kuliah jurusan ilmu hukum tahun 2014. Entah pada saat itu tanpa mikir panjang daftar kuliah langsung tulis jurusan itu. Mungkin pada saat itu aku memang sedang di dalam fase merasakan ketidakadilan dalam pekerjaan, dan jenuh.

Hal itu membuatku ingin berontak, berharap bisa mempelajari tentang keadilan dan undang-undang ketenagakerjaan dengan berkuliah setiap hari sabtu-minggu (kelas karyawan). Sayangnya kuliahku ini tidak sampai meraih toga. Aku berhenti seiring resign dari pekerjaan lama menuju pekerjaan baru yang tidak memperbolehkan karyawannya bekerja.

Belajar ilmu hukum semakin membuat ku jadi pribadi yang berontak. Bagaimana tidak faktanya teori dan kenyataan hukum di Indonesia itu jauh sekali. Berdebat ini itu yang seharusnya begini dan begitu.

Mau benar atau salah, tugasnya pengacara ya membela. Itu adalah sebuah jasa. Jadi pengacara, musuh dan dosanya banyak. Kata Dosen

Aneh juga sih karena gak ada rasa malu atau gengsi kuliah gak sampai kelar. Terima aja dan percaya melanjutkan jenjang kuliah gak pandang umur, kok. Hanya saja orang-orang yang terdekat saling ngasih informasi soal lowongan kerja disini-disitu antara perhatian vs kasihan hampir sama. Btw, nyari kerja yang bisa nerima karyawannya nyambi kuliah itu 10:100 menurutku. Semua saran aku turutin aku berterimakasih, terutama orangtua. Yang maunya aku kerja ya dikantor lagi.

Tapi, sampai kapan batas aku tidak menjadi aku untuk aku sendiri? Kenapa aku tidak merasa bebas untuk diriku sendiri.

Setelah berteman dengan sembilu soal kerja, kuliah, kerja, dan jatuh sakit tahun 2016 (Berawal dari aktivitas vs istirahat gak seimbang, aku kena campak) dan resign lagi. Aku bertemu dengan dunia baru tahun 2017, di tahun itu aku menemukan jati diri yang gak gak pernah diduga aku BISA. Allah menunjukkan ku zona baru yang 'kenapa gak dari dulu aja', yaitu menulis.

Dulu sama sekali gak ada di list cita-citaku ingin menjadi penulis. Mungkin inilah yang namanya passion. Belajar nulis bikin artikel listicle sampe bertemu orang-orang penting yang sama sekali gak pernah di duga. Serius penting!

Berawal dari di undang acara komunitas menulis dari salah satu media online, di undang meliput untuk launching rute baru AirAsia, tantangan mewancarai orang yang baru ditemui menulis tentang sosok perempuan tangguh (Aku gak tau step by step wawancara itu kayak gimana), sampai yang paling epik di undang ke event IMS 2019 untuk meliput PT Paragon.

Pagi-pagi banget jalan dari Tangerang ke  Jakarta, harus sampai jam 7 pagi. Tetep gak ke buru jadi duduk di paling belakang.


Di IMS aku bisa lihat langsung orang-orang sukses, lihat Wakil Presiden Pak Jusuf Kalla, Sandiaga Uno, pemimpin Johnson & Johnsons, dll. OMG butiran debu ada di tengah-tengah orang sukses. Berdiri ditengah orang-orang yang sudah sarjana jurnalistik, sarjana komunikasi, photographer ahli, menurut aku itu keren sebagai orang yang 'belum' sarjana.

Sama sekali gak ada rasa minder, yang ada itu ingin kecipratan ilmu dari mereka. Dunia menulis menurutku tidak kenal batasan pendidikan. Siapapun bisa menulis dengan baik, menyampaikan sudut pandang serta pemikiran-pemikiran sederhana sampai serius.

Ada yang "Wah, keren", "Ajarin dong nulis", ada juga yang "Haha nulis apaan lu, diary" atau "Itu tulisan sendiri atau copas dari google" waduh, guys!

Soal percopas-san justru itu adalah hal yang paling di jaga oleh seorang penulis terhadap kontennya. Dengan belajar pasang coding agar terhindar dari makhluk copas. Copy paste itu menyakitkan guys apalagi tanpa izin dan full copas tanpa cantumin sumber lagi, sedih.

Btw, seiring waktu berjalan, kedua orangtuaku sudah mulai menerima pekerjaanku sekarang yaitu freelance content writer dan blogger otodidak. Dengan penghasilan yang bukan bulanan, tapi hasil recehan yang dateng by email..

Dear Mbak Lisa,
Fee sudah di transfer ya atas nama ..... -Advertiser

Alhamdulillah, insyaAllah semakin di gali ilmu menulisnya aku yakin ini cukup untuk menjadikan aku adalah aku, karena aku dan untuk sekeliling aku.

Dalam hal cita-cita di usia 25 tahun ini aku tidak ambisius cukup realistis melihat apa yang aku mampu lakukan. Tanpa aku harus jadi ini atau jadi yang orang mau. Aku  rasa setiap orang cukup realistis dan punya hak untuk mengikuti arah airnya mengalir.

Untuk kalian yang belum sempat merasakan bangku kuliahan tidak perlu minder, kuliah bisa dijalani di umur kapanpun. Ada Universitas Negri yang masih menerima kita yang sudah 3 tahun di luar masa lulus SMA yaitu Universitas Terbuka dan Universitas Indonesia (Kelas Paralel).

Sebenarnya ilmu hukum sama menulis itu masih nyambung. Menulis artikel juga melalui riset, cari referensi, SEO dan pendalaman storytelling. Tapi, dengan profesi baru aku sebagai penulis sepertinya aku tidak akan melanjutkan kuliah jurusan ilmu hukum, tapi jurusan lain yang bisa mendukung profesi aku sekarang mungkin seperti ilmu komunikasi.

Cheers,
Lisa

2 komentar:

  1. Menurutku background ilmu hukum sangat nyambung sama nulis sih, karena nulis gak bisa sembrangan aja, butuh data dan alanisis hehe. Mbak jg bisa nulis tentang hukum kan, pencerahan untuk yg awam seperti aku. Salam kenal Mbak!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hi, Harumi salam kenal. Iya sangat nyambung. Sayangnya aku gak sampai lulus jadi ilmunya masih abu-abu untuk nulis tentang hukum hehe..

      Hapus

Hi, Silahkan tinggalkan komentar terbaikmu.
Mohon maaf komentar spam/ link aktif tidak akan dipublish.
Subscribe ya untuk menerima notif artikel terbaru. Terima kasih :)

Diberdayakan oleh Blogger.