Pengalaman KTP di Catut Pajak Mobil Orang [Based On True Story]

Photo by Tranmautritam from Pexels

Pertanyaan "Kok bisa?" masih menghantui di pikiranku sampai sekarang. Sebelumnya aku udah pernah cerita di blog ini kalo dulu tempat tinggal pertama aku sekeluarga itu di Jakarta Barat sampai aku kelas 2 SD, kemudian kelas 3 SD kami tinggal di Jakarta Timur. Setelahnya kelas 4, 5, 6, dst pindah tempat tinggal dan sekolah di Kota Tangerang hingga sekarang dan kami tinggal di rumah nenek.

Rumah nenek yang pertama itu di daerah perumnas yang mana pada tahun 2011 rumah itu di jual. Aku manggilnya Mbah (Nenek) & Abah (Kakek) setelah rumah di jual kemudian mereka beli rumah di daerah Cibodas (Masih satu kecamatan juga).

Tahun 2019
Kehidupan kami sekarang ya cukup baik-baik saja. Ibu aku sekarang terima pesanan nasi box kecil-kecilan untuk pengajian teman-teman dekat. Aku dan Ibu masih belajar buka katering online di Shopee & Tokopedia namanya BOXFOODY, tapi sampai sekarang belum ada yang pesan online. *Pesen dong* Boxfoody namanya di Shopee.




Ternyata setelah sabar ngurus E-KTP.  Masalah lain soal KTP masih ada, tiba-tiba dateng tetangga aku Kak N sebut saja, dia nganterin surat dari Kantor Pajak yang dikirim ke alamat rumah Mbah & Abah waktu di perumnas. Jadi penghuni rumah baru itu nitip ke Kak N untuk sampaikan ke rumah kami di Cibodas.

Surat itu tertulis nama Ibu aku, berisi tagihan pajak senilai Rp81 juta. Syok, di keluarga belum ada yang daftar NPWP, sebagai freelance aku pernah daftar NPWP online tahun kemarin dan itu di tolak alasannya "Saya perlu dateng langsung ke Kantor Pajak untuk di edukasi soal pajak". Serius aku belum mengerti soal pajak, apalagi isi laporan pajak seorang freelance.

Pajak macem apa Rp81 juta?
Awalnya kami sangka itu adalah surat penipuan. Tapi, setelah aku cari tau di google. Dan nanya di Twitter @Kring_Pajak di sarankan untuk dateng ke KPP yang tercantum di surat itu. Btw, setelah screenshoot aku sudah delete tweet ini @kring_pajak gak bisa DM jadi by mention bertanyanya aku lampirin surat-surat itu, untuk menjaga rahasia data, aku segera delete.


Akhirnya Aku dan Ibu putuskan dateng ke KPP Pratama Tangerang Barat tgl 23 Juli 2019. Bertemu sama bapak (A) yang bukain pintu, aku bilang..

"Pak, kemarin ada surat pajak untuk ibu saya untuk bertemu tim pemeriksa, apakah surat ini asli".
"Oh, tamu ya saya coba tanya dulu".

Bapak itu ke meja di samping dari masuk pintu, Bapak (A) memberikan surat itu ke Bapak (B). Bapak itu bilang oh ini ketemu sama Bapak AR.

Aku masih nanya lagi, "Pak, apakah surat itu asli atau palsu?"

Bapak (B) menjawab, "Yah, aslilah mana ada surat palsu!".

Ibuku balas, "Saya gak pernah punya NPWP, Pak. Kerja kantoran juga engga, kok ada tagihan pajak ya"

Bapak (B) menjawab, "Yah, gak apa-apa bu yang penting kalo ada panggilan ya di jawab saja, konfirmasi. Mari Bu, tunggu di dalem kebetulan Bapak AR lagi tugas keluar. Berarti ketemu sama LR aja. Jadi, di surat itu ada 2 nama tim pemeriksa Bapak AR & Mbak LR.

Aku dan Ibu di ajak ke dalem ada ruang tunggu khusus tamu gitu. Kita duduk di sofa. Gak lama ada Mba-Mba dan Bapak (B). Mungkin itu Mba LR, dia bilang, "Tunggu ya Bu soalnya Bapak AR lagi tugas keluar sebentar, ini saya sudah telpon mungkin bentar lagi sampai, soalnya dia yang periksa".

Mba-mba itu nunjukin post it, jadi kata dia Ibuku terdata ada pembelian mobil tahun 2011. Langsung aja kami kaget. "Ha, mobil, Ya Allah boro-boro beli mobil bawa motor aja pada gak bisa".

Bapak (B), "Coba Ibu inget-inget, kali ibu pernah pinjemin KTP Ibu sama orang, atau suami Ibu mungkin".
Ibuku, "Siapa, buat apa beli mobil juga, suami saya gak mungkin dia aja masih naik bis kerjanya. Ini E-KTP saya (Ibuku tunjukin E-KTP nya ke mereka), dulu saya memang tinggal di alamat perumnas itu, tapi udah lama pindah Pak."

Bapak (B), "Coba Ibu inget-inget, KTP ibu pernah hilang gak?".
Ibuku, "Pernah tapi dulu banget Pak, zaman anak saya masih SD."
Gak lama Bapak AR (Pemeriksa) dateng, dia minta kita tunggu di meja depan sederet sama meja pelayanan pajak.

Aku sama Ibu masih terheran-heran, kok bisa beli mobil surat-suratnya dan NPWPnya atas nama Ibuku. Aneh banget. Memangnya beli mobil semudah itu ya. Sekarang aja kalo mau upgrade OVO, dsb mesti verifikasi foto selfie sama KTP dulu. Kok bikin surat-surat mobil hanya pakai KTP orang, jadi?

Gak lama Bapak AR dateng, dia nunjukin selembar kertas bertulis NOPOL dan Minibus Toyota tahun 2011 seharga Rp648 juta.

"Sebelumnya Ibu sudah dapet surat yang sebelum ini", kata Bapak AR.
"Gak ada, tetangga saya cuma nganterin surat ini", kata Ibuku.
"Mestinya sih ada surat sebelumnya, Bu. Gimana ya seharusnya Ibu datang sesuai tanggal di surat, ini sudah melewati tgl surat, jadi tagihannya sudah di tetapkan", kata Bapak AR.

"Tetangga saya anterin surat itu minggu kemarin, dia juga gak tau kali isi suratnya apaan. Pas dibuka buka isinya tagihan pajak, npwp aja gak pernah daftar tiba-tiba di tagih". Kata Ibuku. Kita sudah jelasin ke Bapak AR, intinya sama. Itu bukan mobil Ibuku, Ibuku gak pernah beli mobil.

Wahgilasih, aku dan adik memang sering ngehalu bisa punya hidup yang lebih baik, bisa beli rumah dan mobil untuk kedua ortu. Ya, tapi gak akan mobil harga segitu juga, mahal banget.

Bapak AR bilang, "Yah, kalau untuk punya mobil kan harus punya NPWP, Jadi nomor NPWP ini di keluarkan oleh kami. Kami hanya menerima data dari SAMSAT, mobilnya adakan, Bu."

Sudah dijelaskan itu bukan mobil Ibuku, masih bertanya kayak gitu.

Ibuku, "Ini KTP saya, kalo Bapak gak percaya, Bapak kerumah aja".
Aku bertanya, "Pak hal ini bisa laporkan ke Polisi gak, Ini kan berarti ada yang menyalahgunakan KTP Ibu saya".

"Yah itu terserah, kami cuma laksanain tugas, kalau memang Ibu tidak merasa membeli dan memiliki mobil tsb, Ibu buat surat pernyataan saja bermaterai dan isi form permohonan pengurangan atau penghapusan pajak, saya ambilkan sebentar ya".

Dia balik ngasih 2 lembar SKPKB, dan form permohonan pengurangan atau penghapusan pajak.
Aku baca SKPKB itu, isinya kalau tidak mengajukan keberatan akan di tagih dengan SURAT PAKSA. Jatuh temponya tanggal 17 Agustus 2019, guys.

Sebelumnya surat yang kami terima dari tetangga, berisi nama yang tercantum harus datang tgl 11 Juli 2019 bertemu tim pemeriksa. Tetangga aku nganterin surat dibawah ini tanggal 18 Juli 2019, pas banget di hari acara selametan kelahiran keponakan aku (Inget banget aku). Jadi, pas kita ke KPP Pratama Tangerang Barat itu sudah lewat dari tanggal. Ya, menurut yang tertulis di surat itu, apabila tidak hadir sesuai tanggal 11 juli itu maka pemeriksaan dianggap selesai dan menyetujui untuk melunasi tagihan pajak Rp81 juta itu.



Ya, tetangga aku mana tau ini surat isinya apa. Dan keluarga aku awalnya juga anggap ini surat penipuan, orang gak punya NPWP kok di tagih pajak. Ya, kalo orang kaya yang punya mobil mewah kayak yang ada di berita mungkin wajar dapet surat cinta dari pajak ini. Lah kita siapa?

Mau di paksa bayar, wong memang mobil itu bukan punya Ibuku? Masa mau maksa Ibuku membayar yang BUKAN kewajibannya? Apakah kasus pencatutan KTP ini sepele? Ini merugikan lho, korban harus dateng ke KPP pakai ongkos, fotokopi, beli materai, keluarin uang yang seharusnya bisa dipakai buat makan. Lantas oknum yang catut KTP Ibuku dibiarkan begitu saja pakai mobil nunggak pajak atas nama Ibuku?

LANJUT.
"Terus Pak, format surat pernyataanya kayak gimana". Tanyaku.
"Format bebas, nanti SKPKB nya di fotokopi di lampirin sama form ini di isi, dan surat pernyataan, nanti kasih ke bagian pelayanan." kata Bapak AR.

Aku bingung surat pernyataannya kayak gimana, aku searching di google. Gak ada format surat pernyataan yang berisi kasus pajak kayak ini. Aku khawatir surat pernyataan ini isinya gak kuat hukum untuk menjelaskan bahwa mobil nopol tsb bukan milik Ibuku. Bismillah aja.

Semua berkas sudah di berikan ke bagian pelayanan. Dan Ibuku di kasih lembar tanda terima penyerahan surat. Katanya tinggal nunggu surat jawaban dari KANWIL DJP BANTEN nanti di kirim ke alamat NPWP Ibu (rumah perumnas)

Kenapa harus nunggu jawaban, kan itu memang bukan punya Ibuku?.
Kata Ibuku, "Kita gak perlu takut, orang gak salah". Tapi, yang namanya anak, orangtua ada yang dzholimin "gue gak terima dong". Siapa sih orang yang punya mobil asli itu?

Kita bertanya-tanya ke orang yang ngerti pajak. Ada yang saranin lapor ke Polisi biar STNK-nya di blokir dan NPWP-nya di hapus. Aku juga sempat bertanya ke grup Facebook Konsultasi & Bantuan Hukum Gratis. Ada yang bilang.
.....gak perlu lapor kemana-mana, ikuti saja prosedurnya. Kalau tidak salah, tidak perlu takut. Dan jangan mau kalau di paksa bayar.
Terus aku juga baca-baca di media online salah satunya kumparan yang masih bahas soal kasus catut pajak mobil mewah. Bisa baca klik disiniKesimpulannya, aku nulis ini berharap tidak ada lagi yang kena kasus catut KTP pajak mobil kayak Ibuku ini. Tapi, kalau sudah terjadi. Hal pertama yang harus kalian lakukan adalah:
  • Harap tenang.
  • Di pastikan itu adalah surat asli.
  • Dateng ke kantor pajak sesuai alamat yang tercantum di surat undangan, tepat waktu.
  • Bicara sejujur-jujurnya kalau kamu memang tidak merasa memiliki mobil/ kendaran itu.
  • Buat surat pernyataan, berlampir fotokopi KTP, dan ttd bermaterai yang menjelaskan bahwa kamu bukan pemilik asli mobil dan KTP kamu telah di salahgunakan oknum tidak bertanggung jawab.
Sampai saat ini aku belum tau kelanjutan kasus catut KTP Ibuku ini hasil akhirnya gimana. Semoga Kanwil Banten/ DJP Pusat tidak lepas tangan soal kasus kayak gini. Mungkin perlu di perketat lagi syarat dan ketentuan untuk pembuatan STNK di SAMSAT agar TIDAK ADA lagi yang daftar STNK wajahnya beda sama foto di KTP.

Kalau data semua tepat sasarankan penerimaan pajak juga lancar, betul? WP nunggak pajak, mobil bisa di sita. Nah, kalo kasusnya kayak Ibuku ini, mau sita mobilnya juga gak tau ada dimana itu mobil, pernah liat juga enggak. Yang di kambing hitamkan ya korban. Rumit juga kasus ini. Untuk semua teman-teman harap berhati-hati soal identitas KTP.

Note:
Tulisan ini aku tulis dengan sebenar-benarnya. Mungkin kurang lebih dialognya seperti itu yang aku ingat. Nama-nama aku inisialkan agar tidak ada yang menyalahgunakan atau memanfaatkan keadaaan.

Cheers,
Lisa

2 komentar:

  1. Kok saya jadi ikut emosi mbacanya.. Kok beberan ada ya orang beli mobil mewah mencatut ktp orang. Semoga masalah ktp ibu embak segera jelas yaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mba, saya saja baru tau ada kasus kayak gini setelah baca-baca berita ternyata tidak hanya terjadi kepada Ibu saya saja, oranglain juga ada yg nasibnya sama. Aamiin Mba, terima kasih ya..

      Hapus

Hi, Silahkan tinggalkan komentar terbaikmu. Mohon maaf komentar spam/ link aktif tidak akan dipublish. Subscribe ya untuk menerima notif artikel terbaru. Thank you.

Diberdayakan oleh Blogger.