Lebarkan Sayap Bisnis Kue Kekinian Dari Nol, Ini Resolusi Bisnis 2019


Hari ini saya ingin sharing tentang pengalaman bangun usaha yang sekarang sedang saya jalani. Menjadi chef dari kecil adalah salah satu dari mimpi besar saya. Dimulai dari menghabiskan bahan-bahan kue di dapur. Ingat betul kue yang pertama kali saya buat sendiri waktu kecil adalah kue mangkok bolu kukus yang bentuknya mekar bagian atas?


Pada saat itu belum mengenal handphone untuk nonton tutorial masak di YouTube seperti sekarang. Pakai feeling saja waktu itu. Tentu hasilnya gak sama dengan buatan ibu saya. Basicly saya terbiasa masak masakan sehari-hari seperti sayur asem, ikan asin, sambel terasi ulek di cocol pakai lalapan.

Namun saya harus coba keluar dari zona nyaman kayak lagu dari Fourtwenty. Kegagalan dari kegagalan bikin kue, saya sadar bahwa membuat kue itu berbeda dengan memasak sayur yang bisa taruh garam pakai feeling atau kata lain 'secukupnya' sering banget kan dengar kalimat itu..

"Selanjutnya tambahkan garam dan gula secukupnya".

Ternyata membuat kue itu seperti sains yang takerannya sudah pasti tidak boleh kurang dan tidak boleh lebih kalau tidak yaa meledak bentuk & rasanya. Tidak berlaku kata 'secukupnya' di dunia kue. Dari tahun ke tahun banyak makanan kekinian bermunculan. Lalu muncul sebuah keberanian untuk mencoba jualan kue.

Saya coba untuk membuat dessert box brownies yang sedang hits itu. Saya menyusun strategi untuk memulainya karena mungkin #IniSaatnya saya belajar bisnis dari NOL. Berikut adalah rencana jalankan usaha pada tahun 2019 yang dilakukan pada saat saya memulai bisnis. Simak dibawah ini:

1. Be open minded dan pantang menyerah.

Photo by Annie Spratt on Unsplash

Menurut saya jalan pertama yang harus dilakukan saat membuka usaha adalah punya pemikiran yang terbuka, karena dari situlah sumber ide bisa masuk dari mendengar, membaca, dan melihat banyak referensi ilmu-ilmu baru. Memulai usaha dari Nol sangatlah penuh ujian apalagi saya belajar buat kue hanya melihat dari YouTube sungguh amatir. Hal itu yang membuat orang-orang disekitar saya ada yang meragukan 

Memangnya kamu bisa?
Modalnya darimana kamu! 
Sudahlah jangan coba-coba, habis-habiskan duit saja!
Bagaimana mereka bisa mengatakan itu padahal saya belum terjun mencoba, seperti mencoba aja belum kok udah bilang gak bisa. Dari situ saya hanya mendengarkan mereka yang membuat semangat dan sudah coba makan kue buatan saya lalu bilang "Bikin nagih, enak banget".


2. Pakai peralatan yang sudah ada, be simple.

Photo by Nicolas Gras on Unsplash

Saya harus putar otak agar modal sedikit tetap bisa dijalani.  Saya pakai alat-alat punya ibu saya yang sudah ada di dapur. Sehingga sembari jualan saya bisa mencicil untuk membeli satu-persatu peralatan seperti panci kukus yang besar, mixer baru, sendok ukur, hingga oven listrik. Keuntungan belum saya perhitungkan di sesi awal penjualan, karena uang hasil jualan saya utamakan untuk membeli peralatan yang akan membantu saya membuat kue bisa lebih lancar lagi.

3. Cerdas pilih bahan baku, kualitas adalah utama.

Photo by NordWood Themes on Unsplash

Sebelum menjual kue ke orang saya riset dulu beberapa bahan saat membuat brownies. Beda merek ternyata beda rasa seperti DCC atau Dark Chocolate Compound antara TULIP, COLLATA, dan Mercolade itu berbeda banget dari segi rasa. Lalu pemilihan whipcream mana yang lebih efisien whipcream cair atau bubuk. Secara whipcream cair tidak bisa bertahan lama.

Rasa brownies oven dan kukus juga berbeda. Jadi, saya harus benar-benar riset rasa yang pas dan tetap pada satu merek bahan baku agar kualitas rasa tidak berubah-ubah. Mengikuti trend boleh, tapi punya ciri khas rasa adalah penting.

4. No GAPTEK! Bertemanlah dengan internet, karena marketing adalah diri sendiri.


Memulai usaha rumahan dari Nol tidak punya budget banyak untuk mempekerjakan oranglain untuk mengurusi penjualan. Mungkin terdengar lucu juga kalau usaha kecil-kecilan ini saya pakai admin sosmed. Untungnya membangun usaha lebih mudah di era digital saat ini. Saya merasa terbantu dengan sosial media milik saya warganyapun berbeda-beda menurut saya.

  • Facebook dominan yang aktif adalah ibu-ibu.
  • Twitter dominan yang aktif adalah kaum literasi. Saya tidak setuju jika jualan kue melalui twitter.
  • Intagram dominan anak millennials, pegiat media sosial, dan orang tua gaul. Seseorang bisa sangat terpengaruh oleh foto dan caption hanya dalam sekali posting.
  • WhatsApp disini adalah saya pakai untuk tempat terprosesnya sebuah order.

Saya mulai mengenalkan kue dessert box brownies ini awalnya dari story WhatsApp dan story Instagram. Baru antara mulut ke mulut. Harapan besar saya tahun 2019 ini bisa membuka toko online di marketplace seperti Shopee atau Tokopedia. Tentunya saya harus punya strategi dan belajar mengambil foto yang apik agar bisa bersaing dengan toko kue lainnya.

5. Belajar menghitung dan menentukan target penjualan bukan jumlah but specific.

Soulyou - Dessert Box Brownies by Lisa Deslina

Saya bermain dengan matematika di usaha kue kekinian ini walaupun saya tidak suka matematika. Saya belajar menghitung takeran terigu, gula, coklat bubuk dan lainnya kemudian menghitung waktu berapa lama saya kukus brownies sampai total waktu yang saya butuhkan untuk membuat 4 box dalam sekali produksi. Belajar menghitung dan ketepatan waktu produksi adalah penting agar kue bisa cepat di antar ke pembeli.

Menentukan harga jual juga menentukan golongan yang seperti apa calon pembeli saya. Ya, harapan semua orang yang usaha adalah bisa menjangkau ekonomi semua kalangan. Tapi, kenyataannya tidak semudah itu. Pernah ada yang saya tawari dan dia berkata

Sekotak kecil ini harganya segitu, emang ada yang beli?
Untungnya berapa ini bahannya kan mahal, mending kamu jualan yang lain saja!
Awalnya saya down mendengar mereka berkata seperti itu. Tapi, saya acuhkan saja. Ketika saya memulai suatu usaha pastinya saya sudah membuat perhitungan dengan matang soal untung rugi. Saat mulai saya pikir menghitung berapa keuntungan itu urusan nanti yang penting ada yang beli, laku saja dulu. Mungkin benar saya harus tepat sasaran saat menawarkan kue kekinian ini. Bisa saja memang mereka tidak tahu kue ini sedang hits dan digemari anak Instagram dan YouTube.

6. Menjalin pertemanan dengan banyak orang terutama blogger, dan influencer.

Photo by Roman Kraft on Unsplash
Saya merasa beruntung karena saya sudah masuk ke dunia blogger. Saya menjadi tau bagaimana cara mempromosikan atau menginfluence suatu produk kepada oranglain.  Dan berapa kisaran budget jika ingin mengajak para blogger bekerja sama.

Menurut saya setiap pelaku usaha jika ingin memilih media promosi lebih baik pilih para blogger mengapa? karena para blogger engagedment-nya bagus dan dengan senang hati follow balik sesama blogger jadi followersnya sudah dipastikan akun asli. Tentu itu sangat membantu bagi blogger yang merintis usaha kecil-kecilan seperti saya. Memperbanyak jaringan pertemanan bisa menumbuhkan relasi bisnis yang baru.

7. Usaha sudah berjalan, pembukuan rapi, kini saatnya pikirkan inovasi baru agar bisnis berkembang.

Download aplikasi mobile Ralali, belanja kebutuhan bisnis gak perlu repot lagi.

Membuat pembukan sangatlah penting. Supaya kita tau berapa biaya produksi dan operasional agar nanti kita bisa menentukan harga produk mungkin saya juga bisa membuka reseller. Arti kata Bisnis yang sesungguhnya adalah usaha yang berkembang dengan profit yang baik. Kata orangtua "Jangan ketinggian, jalani saja dulu". Yups, memang tidak perlu bicara terlalu tinggi dulu saat baru mulai usaha kecil-kecilan. Namun kita harus tetap punya mimpi agar tetap termotivasi.

Pergerakan inovasi itu cepat sekali. Sekali ada ide langsung segerakan sebelum keduluan dengan pelaku usaha lain. Untungya sekarang di era digital seperti ini mencari bahan-bahan dan alat baking lebih mudah karena bisa pesan online seperti di Ralali.com tau dong Ralali itu apa?

Ralali.com adalah platform pusat grosir online di Indonesia. Nama Ralali sendiri awalnya dari bahasa Jawa lho yaitu "Ora lali" yang artinya tidak lupa atau jangan lupa. Ralali.com bisa menjadi solusi bagi siapapun yang mau memulai usaha ataupun pelaku usaha dalam menyuplai beragam kebutuhan usaha secara mudah dari berbagai supplier terpercaya.

Ralali.com dapat membantu mewujudkan Resolusi Bisnis 2019. Bisa belanja lewat website www.ralali.com atau melalui aplikasi mobile Ralali.


Tampilan website Ralali.com

Buat saya yang mimpi sukses dari usaha kecil-kecilan ingin menjadi katering besar saya bisa menemukan peralatan memasak profesional di Ralali.com mulai dari baju chef (baju impian, btw), alat masak stainless, dan juga belanja grosir bahan-bahan dapur seperti coklat dan terigu.

Gak cuma bisnis makanan saja, ada berbagai produk untuk usaha kuliner, kebutuhan kantor, konstruksi & arsitektur, otomotif, dan berbagai kategori usaha lainya tersedia dan dapat disuplai dengan dengan mudah melalui Ralali.com. Pilihan cara pembayarannyapun beragam.



Penting banget buat kita untuk belanja online bahan-bahan kebutuhan bisnis di tempat yang terpercaya. Menurut saya lebih baik dapat harga murah karena kita beli grosir daripada beli 1 tapi diskon 80% dengan kualitas yang jelek. Di Ralali juga banyak promo lho..

Nikmati promo belanja dan kebutuhan bisnis setiap bulan


Dengan adanya Ralali.com tentu jadi pilihan website yang tepat untuk berbelanja kebutuhan usaha.
Terpercaya, karena langsung dari distributor resmi produknya. Tak hanya menjadi tempat pusat grosir online di Ralali.com juga tersedia pengajuan pinjaman untuk modal usaha.

Tentunya akan membantu dalam mewujudkan resolusi bisnis yang saya rintis dari nol pada awal tahun 2019 ini sehingga dapat berkembang dengan baik. Menjalani bisnis tidak ada yang instan semua butuh proses merasakan pahitnya kegalalan. Kegagalan dan cobaan itu ibarat vitamin yang bila diminum terus menerus akan menguatkan perjalanan bisnis saya. Manfaatkan peluang yang ada dan  segera realisasikan ide-ide yang tercipta.

 https://www.ralali.com/koinworks
Ralali x Koinworks


Itulah resolusi bisnis 2019 versi saya, sekarang saatnya ceritakan apa resolusi bisnismu! #IniSaatNya tau Ralali.com untuk #ResolusiBisnis2019


--
With love,

3 komentar:

  1. Ternyata kegemaran bisa jadi bisnis ya mbak..Ralali sejenis shoope dan lazada gitu ya mbak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai Priyani, Ralali berbeda dengan shopee/lazada karena Ralali pasar grosir online bisnis untuk bisnis (B2B Marketplace). Barang dikirim langsung dari distributor/pabrik ternama.

      Hapus
  2. Wa..kereen..dari hobi jadi bisnis..Ralali morip shoope dan lazada gitu ya mbak?

    BalasHapus

Hi, Silahkan tinggalkan komentar terbaikmu.
Mohon maaf komentar spam/ link aktif tidak akan dipublish.
Subscribe ya untuk menerima notif artikel terbaru. Terima kasih :)

Diberdayakan oleh Blogger.